Kamis, 06 Februari 2014

Makna Sabar

REPUBLIKA.CO.ID, Saking pentingnya sikap sabar bagi setiap manusia, Allah menyebut kata sabar dalam Alquran sebanyak 70 kali. Sedangkan, ungkapan Allah yang khusus diperuntukkan bagi mereka yang bersabar tertuang setidaknya melalui 16 ayat Alquran yang berbeda-beda.

Di antaranya, surah al-Baqarah ayat 45. Allah meminta segenap hamba-Nya agar menjadikan shalat dan sabar sebagai media pelipur lara. “Dan mohonlah pertolongan terhadap Allah SWT dengan sabar dan shalat.”


Dari 16 ayat tersebut, tersarikan segudang hikmah dan manfaat bersabar. Hikmah  bersabar tersebut, antara lain, Allah memuji orang sabar sebagai golongan orang yang beriman dan bertakwa. Kemudian, orang yang tidak dapat bersabar merupakan orang yang lemah dan bersedih.

Allah mencintai orang-orang yang bersabar, Dia akan selalu dekat dengan orang yang bersabar, memberikan kebahagiaan pada orang-orang yang bersabar, serta Allah akan memberikan pahala dan ganjaran yang tanpa batas bagi orang-orang yang bersabar.

Selain itu, sabar bisa dikategorisasikan secara garis besar ketiga bagian yang utama, yaitu pertama, sabar karena pertolongan Allah. Artinya, seseorang mengetahui kesabaran karena pertolongan-Nya. Dan, Allahlah yang menganugerahkan kesabaran kepada hamba-Nya.

Kedua, sabar untuk Allah SWT. Maknanya, pendorong umat untuk bersabar adalah karena cinta pada-Nya. Penuh harap dan mendekat dengan berbagai ragam ketaatan kepada-Nya. Bukan hanya untuk memperlihatkan jiwa yang kuat dan ketabahan terhadap manusia lain ataupun tujuan lain.

Ketiga, sabar beserta Allah. Yakni, sabar yang dilakukan sesuai dengan hukum-hukum Allah. Sehingga, dia dapat menegakkan hukum Allah sekuat tenaga, pikiran, dan hatinya.

Terkait hukum bersikap wajar, tapi berdasarkan konsensus ulama, hukumnya wajib. Karena pada hakikatnya, menurut Islam, iman seseorang terbagi dua bagian, separuhnya terdapat kesabaran dan sebagiannya lagi terkandung rasa syukur.

Rabu, 05 Februari 2014

tahajud bukti cinta kepada rasul

REPUBLIKA.CO.ID, Ketika tengah malam pekat membuai lelap, seakan mereka merintihkan segala harapan, seraya berharap petunjuk Allah. “Wahai Ilahi, Engkaulah pelita yang menerangi hamba-hamba yang tersesat di lembah kegelapan. Engkaulah petunjuk para musafir yang tersesat di padang pasir.
Engkaulah mutiara yang tersembunyi dan terus kuselami, betapa pun ombak gelombang menggulung dan mengempas tubuhku. Inilah air mataku yang memburai dari hatiku yang basah. Setiap tetesan air mataku adalah harap cemas, penyesalan tiada tara akan dosa-dosaku, dan berharap akan maghfirah(ampunan)-Mu.”
Dalam tahajud, tidak ada lagi permohonan yang mendunia, tetapi yang ada hanyalah desah rindu untuk berjumpa dengan Allah semata (liqa’a li robbihi). Cinta telah memikat hati mereka untuk terbang membubung mencari Sang Pemilik Cinta. Jiwanya melayang menjulang bagaikan serpihan kapas tertiup angin pagi diiringi petikan dawai halus yang mendendangkan hasrat kerinduan tak terperikan, seraya berkata, “Wahai Tuhanku, Engkaulah segala akhir dari tujuanku, Engkaulah yang selalu kurindu dalam pencarianku.”
Cinta mereka yang makrifat telah merenggut seluruh perhatiannya hanya kepada Allah sehingga tidak lagi ada ruang kosong untuk dendam dan benci. Cinta tak mengenal itu semua, yang ia kenal hanya memberi, bukan meminta. Betapa pun rombongan dendam dan benci berkendaraan emas kencana, merayu mampir barang sejenak. Akan aku katakan kepada mereka, “Wahai musafir yang tersesat, kamarkamar di hatiku telah penuh oleh tamu-tamu cinta. Tidak mungkin aku mengusirnya karena mereka akan tinggal sepanjang hidupku.

Membaca Tanda Alam Dalam Khazanah Islam

Perahu penyelamat di kapal induk telah digunakan para pelaut Muslim sejak abad kesembilan.

Bercengkerama dengan alam telah melahirkan kemahiran tersendiri bagi umat Islam. Para ilmuwan Muslim kemudian juga memiliki ilmu pengetahuan mengenai alam semesta. Misalnya, menentukan ke mana arah angin dan memperkirakan terjadinya badai.

Ilmu pengetahuan ini, yang kemudian disebut meteorologi, menularkan manfaat bagi para pelaut Muslim, misalnya, dalam upaya mereka mengarungi ganasnya samudra dan menentukan waktu harus melaut. Pun, masyarakat umum dalam mengantisipasi terjadinya badai.

Ilmuwan Muslim mengenal beragam jenis badai berbahaya dan dampak yang ditimbulkannya. Dan tentunya, mereka perlu memperkirakan kedatangan badai tersebut. Filolog Arab pada awal masa Islam menyebutkan ada sejumlah karya ilmuwan Muslim mengenai bidang ini.

Dalam sebuah risalah disebutkan terdapat 100 kata yang menguraikan tentang jenis angin menurut dampaknya, kualitas, dan arah angin tersebut. Termasuk, angin ribut dan topan. Kian banyak buku tentang meteorologi seiring penerjemahan buku-buku Yunani.

Pada abad kesembilan, ilmuwan Muslim, Al-Kindi, menghasilkan sebuah karya yang terkait dengan masalah meteorologi. Bahkan, ia dikenal sebagai ilmuwan pertama yang memperkenalkan percobaan dalam ilmu bumi, termasuk meteorologi.

Al-Kindi juga menulis buku berjudul Risala fi l-Illa al-Failali l-Madd wa l-Fazr. Salah satu hal yang ia jelaskan di dalam bukunya adalah soal angin. Menurut dia, angin terkait dengan pergerakan udara, termasuk ke tempat-tempat lebih rendah.

Selain itu, Al-Kindi juga melakukan percobaan di laboratoriumnya. Dalam percobaan itu, Al-Kindi menemukan bagaimana udara yang sangat dingin berubah wujud menjadi air. Dia mengambil botol kaca lalu memenuhi botol tersebut dengan salju dan menutupinya secara rapat.

Lalu, pada permukaan botol tersebut udara berubah menjadi air, seperti botolnya mengeluarkan titik-titik air. Melalui percobaan itu, ia pun meluruskan pandangan sejumlah orang. Ia mengatakan, air atau salju tak dapat melewati kaca.

Pada abad ke-12 dan ke-13, Al-Tifashi yang hidup antara 1184 hingga 1253, mengikuti jejak Al-Kindi. Ia membuat definisi tentang angin ribut, yaitu angin yang mengembangkan kekuatannya dan naik ke atmosfer. Ada pula, ilmuwan Muslim bernama Al-Qazwini (1203-1283).

Al-Qazwini juga mengulang ide Al-Kindi. Ia membuat sebuah definisi yang hampir sama dengan apa yang telah dinyatakan Al-Tifashi. Namun, ia memberikan definisi yang lebih perinci. Pengetahuan tentang angin kemudian dikembangkan lebih jauh.

Langkah ini dilakukan oleh Ahmed Ibn Majid, yang berasal dari Ras al-Khaymah yang sekarang lebih dikenal Uni Emirat Arab dan Sulayman al-Mahri dari Yaman. Kedua orang tersebut merupakan navigator kapal dan pengetahuan tentang angin sangat berguna bagi pekerjaan mereka.

Sebagai navigator kapal, mereka memanfaatkan ilmu tersebut dalam menjalankan profesinya. Dalam pembicaraannya mengenai topan, Al-Mahri mengatakan, sangat perlu seorang navigator untuk tahu banyak tentang topan dan tanda-tanda datangnya.

Tanda-tanda yang biasanya menyertai datangnya topan adalah meningginya temperatur air laut, hujan lebat, dan perubahan angin yang begitu tiba-tiba. Sedangkan Al-Mahri, menyebut ada lima jenis topan di Samudra India yang biasa menerjang kapal yang berlayar.

Salah satu jenis topan yang ada dalam daftar Al-Mahri adalah topan 40. Ini merupakan topan urutan ketiga dalam daftarnya. Menurut dia, topan jenis ini biasanya menghantam Laut Hurmuz. Ibn Majid juga berbicara mengenai topan.

Menurut Ibn Majid, ada topan yang menerjang laut dalam beberapa tahun dan hilang pada beberapa tahun lainnya. Topan memiliki tanda-tanda saat datang. Di antaranya adalah meningkatnya debu di daratan dan laut.

Tanda lainnya, petir dan awan menutupi langit. Ini terjadi saat langit tertutup awan yang warnanya seperti warna kulit sapi. Setelah mengetahui hal ihwal angin, navigator menentukan langkah yang harus dipersiapkan sebelum dan saat berlayar.

Seorang navigator akan meminta sejumlah awak kapal untuk meneliti lambung kapal saat masih berada di daratan. Ini untuk meneliti apakah ada bahan pembuat kapal yang tak memenuhi standar dan menuliskannya.

Tak hanya itu, para awak kapal juga diminta untuk terus memeriksa peralatan berlayar setiap saat. Ini perlu dilakukan agar semua peralatan dalam keadaan baik dan bisa segera diperbaiki bila terjadi kerusakan.

Selain itu, ada langkah lain yang juga perlu dilakukan, yaitu mempertimbangkan antara kapasitas kapal dengan beban kargo dan muatan yang dibawa penumpang ke dalam kapal. Bahkan, ada urutan siapa yang bertanggung jawab jika prosedur ini dilanggar.

Pertama yang bertanggung jawab adalah kapten kapal. Selanjutnya, pemilik barang atau para pedagang yang biasanya membawa muatan dalam kapal. Ini jika mereka telah diingatkan mengenai kelebihan beban muatan.

Pemilik kapal juga dimintai pertanggungjawabannya jika terbukti terlibat dalam pelanggaran tersebut. Ada pula langkah yang biasa direkomendasikan kepada para navigator untuk menghindari hantaman topan, yaitu kembali ke pelabuhan terdekat.

Kasus seperti ini pernah terjadi pada Sabtu, 13 November 1518. Saat itu, sejumlah kapal yang meninggalkan Alexandria menuju Istanbul, terpaksa harus kembali ke pelabuhan Rosetta karena adanya topan yang menghadang mereka.

Membawa perahu penyelamat seperti yang lazim ada pada kapal-kapal besar di masa sekarang, telah dilakukan pada masa itu. Ini merupakan langkah kehati-hatian dalam menghadapi badai yang terjadi di tengah samudra.

Perahu penyelamat yang ditempatkan di kapal induk, telah diketahui dan digunakan oleh para navigator Muslim dan Arab selama masa periode klasik Islam, yaitu pada abad kesembilan hingga ke-13.

Biasanya perahu-perahu tersebut digunakan ketika kapal induk tak dapat lagi menahan hantaman badai. Selain itu, perahu itu juga bisa digunakan untuk perjalanan laut jarak pendek saat musim angin tiba.

MENYINGKAP RAHASIA HUJAN

Tak hanya persoalan angin yang telah menarik perhatian ilmuwan Muslim. Gejala alam lainnya juga menarik perhatian mereka. Pada abad ke-9, ada Ibnu Doraid Al-Azdi yang me nulis sebuah buku yang dalam terjemahan bahasa Inggris berju dul Description of Rain and Clouds.

Dalam buku yang berisi 27 bab itu, Ibnu Doraid memberikan penjelasan ilmiah tentang hujan dan awan. Selain itu, buku ini juga membahas perkiraan cuaca; deskripsi awan, baik corak maupun warna mereka; gerakan awan; akumulasi; serta penebalan dan perubahan bentuk awan.

Ibnu Doraid pun memberi gambaran mengenai jenis curah hujan dan efeknya terhadap tanah dan sumber daya air tanah. Seperti dikutip muslimheritage, ia memberikan penjelasan mengenai Al-Hamma’a dan Al-Hawwa’a atau awan hitam yang menjadi merah.

Selain hujan dan awan, Ibnu Doraid menjelaskan kilat. Ia membagi kilat berdasarkan intensitas cahayanya. Al-hafo merupakan kilat yang paling lemah, Al-wamed bentuknya mirip senyum kecil, dan Al-wallaf adalah kilat yang menyerang dua kali.

Dengan mengetahui gerak dan penyebaran awan serta intensitas kilat, Ibnu Doraid memperkirakan jumlah dan tingkat kelebatan hujan. Ia menjelaskan pula jenis intensitas hujan, antara lain Ghait Thare atau hujan deras.

Seabad kemudian, Ibnu Wahshiyyahe, seorang ahli di bidang pertanian dari Irak, menulis buku berjudul Kitab al-Falaha al-Nabatiya. Buku ini berisi pembahasan mengenai perkiraan cuaca, perubahan atmosfer, dan tanda turunnya hujan berdasar fase bulan.

Dengan adanya perkiraan cuaca, kemudian diketahui awal musim tanam secara tepat. Ini melahirkan kemajuan yang berarti bagi umat Islam dalam bidang pertanian. Para petani pun bisa merencanakan penanaman sejumlah tanaman dan panen dalam setahun.

Ada pula Ibn al-Haytham, lebih dikenal Alhazen, yang pada 1021 memperkenalkan bukunya yang berjudul Kitab Optik. Ia membahas soal pergantian masa. Salah satu penjelasannya mengenai senja yang ia yakini disebabkan oleh pembiasan atmosfer.

Alhazen juga menyatakan, senja baru akan mewujud saat matahari berada 19 derajat di bawah cakrawala. Ia pun menerbitkan kitab lainnya sebagai pelengkap Kitab Optik, yaitu Risalah fi l-Daw atau risalah tentang cahaya.

Dalam Risalah fi l-Daw, Alhazen memberikan penjelasan tentang meteorologi, pelangi, kepadatan atmosfer, dan berbagai fenomena langit lainnya, termasuk gerhana, matahari terbenam, dan cahaya bulan. dya/taq/republika

Selasa, 04 Februari 2014

Nikah Setelah Hamil, Bagaimana Hukumnya?

REPUBLIKA.CO.ID, Assalamu'alaikum wr wb.
Bagaimana hukumnya pernikahan yang dilakukan setelah pengantinnya hamil? Apakah anak yang dilahirkan berhak menggunakan nama suami ibunya? Ada yang mengatakan nikahnya tidak sah karena dilakukan pada kondisi tidak suci, sehingga dianjurkan dinikahkan lagi.
Wassalamualaikum,
Anita, Jakarta

Jawaban:
Perkawinan yang didahului oleh kehamilan dinilai sah oleh banyak ulama, walaupun memang ada ulama yang menyatakan bahwa perkawinan tersebut tidak sah. Sahabat Nabi SAW, Ibnu Abbas, berpendapat bahwa hubungan dua jenis kelamin yang tidak didahului oleh pernikahan yang sah, lalu dilaksanakan sesudahnya pernikahan yang sah menjadikan hubungan tersebut awalnya haram dan akhirnya halal.
Dengan kata lain, perkawinan seseorang yang telah berzina dengan wanita kemudian menikahinya dengan sah, seperti keadaan seorang yang mencuri buah dari kebun seseorang, kemudian dia membeli dengan sah kebun tersebut bersama seluruh buahnya.
Apa yang dicurinya (sebelum pembelian itu) haram, sedang yang dibelinya setelah pencurian itu adalah halal. Inilah pendapat Imam Syafi'i dan Abu Hanifah. Sedang Imam Malik menilai bahwa siapa yang berzina dengan seseorang kemudian dia menikahinya, maka hubungan seks keduanya adalah haram, kecuali dia melakukan akad nikah yang baru, setelah selesai iddah dari hubungan seks yang tidak sah itu.
Memang kalau ingin lebih tenang, sehingga dipandang sah juga oleh penganut mazhab Maliki, tidak ada salahnya melakukan nikah ulang, dengan memanggil dua orang saksi, wali wanita serta siapa saja yang bertindak sebagai penghulu. Anak yang lahir itu -- jika diakui oleh suami wanita tadi, maka dia dapat menyandang nama sang suami. Demikian, Wa Allah A'lam.

Senin, 03 Februari 2014

Adela pemimpin perempuan pertama Kurdi.

Adela pemimpin perempuan pertama Kurdi.

Biasanya, suku Kurdi selalu dipimpin laki-laki yang kuat. Tetapi, setelah kemunculan Adela Khanum, seorang putri dari bangsawan terkemuka Kerajaan Ardalan, suku Kurdi pertama kalinya dalam sejarah dinakhodai seorang perempuan.

Adela lahir pada 1847 di Sanandaj, sekarang dikenal dengan salah satu daerah di Iran. Dia menikah dengan Osman Pasha pemimpin suku Jaff di Kota Halabja, saat ini dikenal sebagai salah satu daerah di Irak.

Dulu, Halabja dan Sanandaj dikuasai Kekaisaran Ottoman. Untuk menjaga agar rakyat memercayai Kekaisaran Ottoman, pihaknya mengintegrasikan para pemimpin lokal.

Kekaisaran kemudian menunjuk suami Adela, Osman Pashan dengan gelar Kaymakam dari Sharazor. Kesibukan suaminya yang menduduki jabatan baru membuat sang suami justru sering absen dari tugasnya mengurus daerah sendiri, Halabja.

Kondisi tersebut mendorong Adela menggantikan kekuasaan suaminya dan diberi gelar Khanum. Setelah Adela memegang kekuasaan, banyak kemajuan yang dicapai.
Dia mulai dengan membentuk pasar, penjara, dan pengadilan hukum. Adela konon memimpin sendiri peradilan secara langsung ketika itu.

Selain itu, dia pun mulai merenovasi rumah-rumah penduduknya sehingga konstruksi rumah mereka semakin kuat dan kokoh.
Adela kian menancapkan pengaruhnya dalam bidang sosial politik di Halibja. Bahkan, kekuasaan dan pengaruhnya disebut-sebut mengalahkan dominasi suaminya, Osman Pasha.

Puncak kejayaan

Puncak kejayaan kepemimpinan Adela, menurut para ahli sejarah, terjadi pada abad ke-20. Dia pun dikenal oleh Inggris sebagai perempuan Kurdi yang memiliki pemikiran yang terbuka, inklusif, dan mempunyai kedudukan yang tinggi serta dihormati banyak kalangan.

Ely Bannister Soane, tentara Inggris, pada 900 melakukan perjalanan melalui Timur Tengah menulis sebuah buku tentang budaya daerah dan menampilkan kehidupan Adela. Dia menginterpretasikan kehidupan di Kurdistan dengan menggunakan kisah Adela.

Dia sempat tercengang, ternyata pemimpin perempuan bukan hanya lazim di Inggris, tetapi di Kurdistan pemandangan itu pernah terjadi, dan Adela telah membuktikan hal itu. Sebagai perempuan, dia berhasil memegang tampuk kekuasaan.

Saat kepemimpinan Adela pun, banyak penduduk yang mengembangkan seni dan budaya. Wanita dari suku Jaff banyak membuat puisi dengan bahasa kurdi dan juga literatur-literatur lain.

Ketika Perang Dunia I dan saat usia Adela menginjak 70 tahun, dia dinobatkan sebagai pelindung seni di Halabja. Halabja pun menjadi pusat budaya Kurdi. Ini merupakan dampak dari peran Adela yang sangat memperhatikan seni.

Dia pun pernah dilaporkan menolong tentara Inggris. Kerajaan Inggris pun memberi dia gelar Khan Bahadur yang berarti putri yang pemberani.
Mayor Soane pun sangat kagum dengan kepemimpinan Adela. Bahkan, saat suaminya bersantai dan lepas dari pekerjaannya di Kekaisaran, Adela tetap memerintah.

Menurut Mayor Soane, Adela merupakan sosok wanita yang menarik. Ketegasan yang dimiliki Adela memang telah terlukis dari wajahnya yang merupakan wanita asli keturunan Kurdi.

Adela adalah pelayan seluruh penduduk Persia. Di Halabja, dia membentuk lembaga sebagai rumah baru bagi koloni kecil Kurdi Persia. Adela pun selalu membuka pintu untuk semua wisatawan dari berbagai negara untuk datang ke negaranya.

Bahkan, dia pun tak jarang memperhatikan wisatawannya dengan berkomunikasi terus-menerus. Adela tak segan-segan menempuh perjalanan ke Sina yang memakan waktu lima hari dengan berjalan kaki untuk menyapa wisatawan.

Kepemimpinan Adela pun terus berpengaruh dan kemudian dilanjutkan oleh anaknya, Ahmad Jaff Pasha. Adela meninggal pada 1924 saat berusia 77 tahun.

Minggu, 02 Februari 2014

Doa Agar Kita Tetap Taat Kepada Allah

Asslaamu alaikum wa rahmatullaahi wa barkaatuhu

Sahabatku, sedang apa kalian di malam ahad ini? Semoga kalian tetap selalu ingat dan taat kepada Allah.

Karena tidak ada kebahagiaan selain hidup dalam taat (QS Yunus 62-63). Sahabat Rasulullah, Muadz bin Jabal bertanya, "Ya Rasulullah, doa apa yang harus kubaca yang membuat hatiku selalu dalam keimanan dan  ketaatan kepada Allah?"

Rasulullah mengajarkan doa itu, "Robby ainny alaa dzikrika wa syukrika wa husni ibaadatika", "Ya Robbku, tolong hamba agar selalu ingat pada-Mu, selalu bersyukur atas nikmat-Mu, dan selalu beribadah terbaik pada-Mu... Aamiin". Imam Ghozali menyebutnya hamba yang selalu berzikir, bersyukur, dan beribadah khusuk, "halaawaturruuhiyyah" hamba itu tenggelam dalam kelezatan spiritual yang sangat membahagiakannya, itulah kekayaan sejati yang dicari para pencari kesenangan, dan sungguh ia berada pada puncak rahmat Allah.

Hafalkan doa ini, baca dalam setiap doa, setiap selesai shalat fardu dan di pengujung malam.

Sahabatku, selamat menikmati liburan akhir pekan.

Sabtu, 01 Februari 2014

Mendekati Alquran


REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh Ustaz Arifin Ilham

Ramadhan, bulan berlimpah kebaikan dan keberkahan. Bulan untuk kita ketam pahala dan anugerah-Nya. Tidak ada yang terlewati dari bulan suci ini kecuali semuanya merasakan kedamaian, ketenangan, dan kebahagiaan.

Di antara amalan yang akan mengundang kebaikan dan berpahala besar adalah mendekati dan membaca Alquran. Atau, istilah yang lazim kita dengar dan akrab pada bulan Ramadhan adalah tadarus Alquran. Inilah amalan yang tersirat dalam Alquran sebagai amalan yang mengundang keberkahan dan sekaligus mendesain Ramadhan kita menjadi terbaik.

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS al-Baqarah [2]: 185).

Mendekati Alquran berarti membaca, merenungkan, menelaah, dan memahami wahyu-wahyu-Nya. Pada bulan inilah Alquran menemukan momentumnya. Syiarnya sangat berasa dan khas.

Di hampir pengeras-pengeras suara mushala atau masjid di negeri ini, Alquran didengungkan. Orang tua, ibu-ibu, bapak-bapak, remaja, dan anak-anak berhimpun bersama, memandangi mushaf, membaca, mempelajari, dan mengkajinya.  

Tidak perlu merasa aneh karena aktivitas tadarus Alquran memang sudah melegenda dan turun temurun. Pada bulan inilah, Malaikat Jibril turun ke planet bumi untuk menyimak bacaan Alquran Rasulullah. Usman bin Affan biasa mengkhatamkan Alquran setiap hari sekali.

Imam Syafii mengkhatamkan Alquran sebanyak enam puluh kali. Al-Aswad setiap dua hari sekali, Qatadah setiap tiga hari sekali atau pada tiap malam pada 10 malam akhir bulan Ramadhan. Subhanallah.

Terkait larangan Nabi Muhammad SAW mengkhatamkan Alquran kurang dari tiga hari, Al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hambali berkata, itu berlaku di luar Ramadhan. Sementara, pada bulan Ramadhan, apalagi pada 10 akhir Ramadhan, justru menjadi amalan utama.

Alquran disebut sebagai ma`dubatullah (hidangan Allah SWT), sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya, Alquran ini adalah hidangan Allah maka kalian terimalah hidangan-Nya itu semampu kalian.” (HR Hakim).

Sungguh, Alquran merupakan suatu hidangan yang tidak pernah membosankan. Semakin dinikmati, semakin bertambah pula kenikmatannya. Oleh karena itu, setiap orang yang mempercayai Alquran akan semakin bertambah cinta kepadanya, cinta untuk mendekati dan membacanya, mempelajarinya, menghafalkannya, memahaminya, mengamalkannya, dan mengajarkannya.