Perhitungan suara melalui sistem hitung cepat usai sudah. Pemenang sementara sudah diketahui, pun termasuk perolehan suara masing-masing. Maka, kini saatnya kita mengikuti bagian paling menarik dalam pemilihan umum, koalisi.
Membahas peta koalisi partai-partai peserta pemilu sangat menarik. Hal ini terutama karena saat kampanye, sejuta cara dilakukan termasuk menjelekkan sesama kontestan. Di sinilah menariknya, akankah mereka konsisten dengan pendirian saat kampanye atau luluh oleh kepentingan. Sejarah mencatat, yang kedua yang lebih sering terjadi.
Adalah kita yang di akar rumput patut waspada dengan gejala transaksional di tingkat atas. Mereka meski sudah berbusa-busa menghujat kebijakan partai lain akan dengan santainya menyatakan koalisi. Tak peduli pernyataan pedas yang sudah dikeluarkan, atas nama "kepentingan bangsa", mudah sekali mereka saling bermaafan.
Sayangnya, meski sejarah berulang kali menyajikan drama elit parpol yang doyan menjilat ludah sendiri, kita mudah sekali terbawa arus. Dengan semangat membara kita ikut serta mencaci mereka yang berseberangan politik. Bukan sekedar mencaci, tak jarang adu fisik dilakukan demi membela partai.
Akar rumput yang berdarah-darah membela paham saat kampanye harus rela ikut menjilat ludah sendiri jika partai yang dibela menyatakan koalisi dengan yang lain. Susah memang menerima kenyataan tersebut namun apalah daya bagi kita yang hanya dihitung berdasarkan kertas suara.
Semoga kita cepat lupa, seperti biasanya.
Jumat, 02 Mei 2014
PPP Putuskan Rekan Koalisi Pekan Depan
VIVAnews - Partai Persatuan Pembangunan (PPP) masih sibuk mencari pasangan koalisi pada Pemilu Presiden 9 Juli mendatang. Pasca islah Ketua Umum Suryadharma Ali dengan pengurus pusat lainnya, hingga kini PPP memang belum menentukan ke mana arah koalisi.
Untuk mencari rekan koalisi, Kamis malam, 1 Mei 2014, pengurus DPP kembali menggelar pertemuan di rumah dinas Suryadharma Ali di Jalan Widya Chandra III Nomor. 12 A, Jakarta Selatan. Pertemuan itu melibatkan Tim 9, tim yang ditunjuk untuk mencari koalisi.
Sekjen PPP Romahurmuziy mengakui pertemuan malam tadi membahas arah koalisi PPP menjelang pilpres.
"Betul, kita akan meng-update satu sama lain dan membahas hasil komunikasi masing-masing anggota majelis 'walisongo' Musyawarah Tim 9 selama setelah Mukernas III PPP di Cisarua kemarin," ujar Romahurmuziy, Jumat 2 Mei 2014.
Romi, begitu biasa dia disapa, mengatakan pertemuan malam itu masih fokus membahas hasil komunikasi masing-masing anggota majelis kepada para bakal calon presiden dan kepada para pimpinan parpol.
"Sampai saat ini belum ada keputusan final. Tapi jika pun ada keputusan, sesuai pasal 56 ART PPP, keputusan ini akan dibawa ke rapat PH DPP untuk diputuskan di Rapimnas yang diadakan pekan depan," kata Romi. (umi)
Untuk mencari rekan koalisi, Kamis malam, 1 Mei 2014, pengurus DPP kembali menggelar pertemuan di rumah dinas Suryadharma Ali di Jalan Widya Chandra III Nomor. 12 A, Jakarta Selatan. Pertemuan itu melibatkan Tim 9, tim yang ditunjuk untuk mencari koalisi.
Sekjen PPP Romahurmuziy mengakui pertemuan malam tadi membahas arah koalisi PPP menjelang pilpres.
"Betul, kita akan meng-update satu sama lain dan membahas hasil komunikasi masing-masing anggota majelis 'walisongo' Musyawarah Tim 9 selama setelah Mukernas III PPP di Cisarua kemarin," ujar Romahurmuziy, Jumat 2 Mei 2014.
Romi, begitu biasa dia disapa, mengatakan pertemuan malam itu masih fokus membahas hasil komunikasi masing-masing anggota majelis kepada para bakal calon presiden dan kepada para pimpinan parpol.
"Sampai saat ini belum ada keputusan final. Tapi jika pun ada keputusan, sesuai pasal 56 ART PPP, keputusan ini akan dibawa ke rapat PH DPP untuk diputuskan di Rapimnas yang diadakan pekan depan," kata Romi. (umi)
Kamis, 01 Mei 2014
Tips Memanjangkan Rambut: 7 Tips Agar Rambut Cepat Panjang
Setiap perempuan mempunyai idealisasi sendiri tentang penampilan yang sempurna bagi dirinya.
Misalnya, beberapa perempuan memimpikan memiliki rambut panjang yang indah.
Bagi banyak perempuan hal ini sangatlah mungkin, namun prosesnya tidak selalu mudah.
Memanjangkan rambut tidak bisa terjadi hanya dalam satu malam dan membutuhkan usaha yang konsisten.
Berikut adalah tips meningkatkan pertumbuhan rambut agar lebih cepat panjang:
1. Memotong rambut.
Sebelum bisa meningkatkan pertumbuhan rambut, Anda perlu menyingkirkan semua rambut rusak dengan memotong rambut Anda.
2. Mengonsumsi suplemen yang bisa membantu pertumbuhan rambut.
Konsumsilah beberapa suplemen yang bisa membantu pertumbuhan rambut, termasuk diantaranya adalah vitamin B, terutama B6 dan asam amino.
3. Potong rambut Anda secara rutin.
Ujung-ujung rambut umumnya akan mudah rusak dan bisa saja menjadi bercabang. Kondisi tersebut tidak akan membantu meningkatkan pertumbuhan rambut Anda.
Potonglah rambut secara rutin setiap 3-4 bulan sekali, potonglah ujung rambut Anda minimal 1 cm.
4. Hindari hal-hal yang bisa merusak rambut.
Perawatan rambut menggunakan bahan kimia dan peralatan rambut yang menggunakan pemanas, seperti curlers dan flat irons, bisa merusak rambut sehingga menghalangi usaha Anda dalam memanjangkan rambut.
5. Hindari kolam renang.
Kolam renang mengandung klorin yang bisa menyebabkan kerusakan pada rambut dan menghambat perumbuhan rambut Anda. Selain itu, air asin alami atau air laut juga bisa menyebabkan kerusakan pada rambut.
6. Konsumsi banyak protein.
Mengonsumsi banyak makanan yang mengandung protein seperti kacang hijau, kacang tanah, biji-bijian, dan kedelai bisa membantu meningkatkan pertumbuhan rambut Anda.
7. Perlakukan rambut dengan lembut.
Sisir rambut secara lembut dan hati-hati, serta hindari mengikat rambut Anda terlalu kencang.
Misalnya, beberapa perempuan memimpikan memiliki rambut panjang yang indah.
Bagi banyak perempuan hal ini sangatlah mungkin, namun prosesnya tidak selalu mudah.
Memanjangkan rambut tidak bisa terjadi hanya dalam satu malam dan membutuhkan usaha yang konsisten.
Berikut adalah tips meningkatkan pertumbuhan rambut agar lebih cepat panjang:
1. Memotong rambut.
Sebelum bisa meningkatkan pertumbuhan rambut, Anda perlu menyingkirkan semua rambut rusak dengan memotong rambut Anda.
2. Mengonsumsi suplemen yang bisa membantu pertumbuhan rambut.
Konsumsilah beberapa suplemen yang bisa membantu pertumbuhan rambut, termasuk diantaranya adalah vitamin B, terutama B6 dan asam amino.
3. Potong rambut Anda secara rutin.
Ujung-ujung rambut umumnya akan mudah rusak dan bisa saja menjadi bercabang. Kondisi tersebut tidak akan membantu meningkatkan pertumbuhan rambut Anda.
Potonglah rambut secara rutin setiap 3-4 bulan sekali, potonglah ujung rambut Anda minimal 1 cm.
4. Hindari hal-hal yang bisa merusak rambut.
Perawatan rambut menggunakan bahan kimia dan peralatan rambut yang menggunakan pemanas, seperti curlers dan flat irons, bisa merusak rambut sehingga menghalangi usaha Anda dalam memanjangkan rambut.
5. Hindari kolam renang.
Kolam renang mengandung klorin yang bisa menyebabkan kerusakan pada rambut dan menghambat perumbuhan rambut Anda. Selain itu, air asin alami atau air laut juga bisa menyebabkan kerusakan pada rambut.
6. Konsumsi banyak protein.
Mengonsumsi banyak makanan yang mengandung protein seperti kacang hijau, kacang tanah, biji-bijian, dan kedelai bisa membantu meningkatkan pertumbuhan rambut Anda.
7. Perlakukan rambut dengan lembut.
Sisir rambut secara lembut dan hati-hati, serta hindari mengikat rambut Anda terlalu kencang.
Kamis, 27 Februari 2014
Kekhalifahan Manusia dan Keniscayaan Belajar
Oleh DR M Masri Muadz MSc
(Penulis buku Paradigma Al-Fatihah)
REPUBLIKA.CO.ID, Inti tugas kita sebagai wakil Allah (khalifah) di dunia adalah menentukan pilihan. Yaitu pilihan yang kita ambil (putuskan) dalam setiap langkah hidup kita. Dan pada keputusan (pilihan) itulah sesungguhnya ujian hidup itu terjadi.
Pilihan kebenaran atau pilihan ketidakbenaran, saat kita mengambil setiap keputusan; pilihan untuk berdzikir atau tidak berdzikir, tatkala kita mendapat musibah; dan pilihan untuk bersyukur atau tidak bersyukur, di waktu kita mendapat nikmat dalam hidup.
Agar pilihan-pilihan yang kita ambil adalah pilihan-pilihan positif, maka pembelajaran adalah tuntutan dan persyaratannya. Dan karena pilihan-pilihan dalam tugas kelhalifahan kita, terkait dengan isu-isu Alquran, manusia atau alam, maka kebutuhan pembelajaran mencakup prinsip-prinsip dari substansi ketiganya.
Begitu pentingnya pembelajaran bagi keberhasilan tugas kekhalifan manusia, maka Alquran mencontohkan cara belajar efektif melalui kisah nabi Adam, Ibrahim dan Muhammad SAW, sebagai berikut.
“Allah mengajarkan nabi Adam AS tentang nama-nama makhluk alam semesta”. Kemudian berkata: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka (para malaikat) nama-nama alam semesta ini.” Melalui dua perbuatan-Nya ini, Allah mengajarkan kita tentang strategi dasar pembelajaran. Yaitu pembelajaran melalui proses menjadi murid dan proses menjadi guru [QS Al-Baqarah (2):30-33].
Alquran menambahkan contoh tentang proses pembelajaran melalui kisah Nabi Ibrahim AS, yang melakukan pembelajaran tauhid, melalui cara belajar yang sekarang kita sebut sebagai pencarian (inquiry), penguasaan pribadi (personal mastery), pembelajaran investigasi (investigative learning), dan dialog.
“Ketika malam telah gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) diaberkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam." “Kemudian tatkala ia melihat bulan terbit ia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaKu, pastilah aku termasuk orang yang sesat". [QS Al An'am (6):77].
“Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, ia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, ia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan” [QS Al An'am (6):78].
"Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan." Orang itu (raja Namrudz) berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan". Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah matahari itu dari barat." Maka terdiamlah orang kafir itu, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim” [QS Al-Baqarah (2):258].
Dalam konteks Nabi Muhammad SAW, Alquran memberikan contoh pembelajaran yang lengkap dan sistemik: membaca, menulis, belajar intensif dan mengajarkan apa yang sudah dipahami kepada orang lain. Seperti yang dapat kita pahami dari inti makna surah-surah Al-Quran yang diturunkan pada urutan ke 1 sampai 5, berikut ini.
Alquran mengajarkan bahwa Allah adalah sumber Ilmu Pengetatuan dan membaca adalah cara memperolehnya. “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan manusia apa yang ia tidak diketahui.” [QS Al 'Alaq (96):1-5].
Alquran mengajarkan bahwa kemampuan baca tulis akan menghasilkan Ilmu Pengetahuan, dalam wujud tulisan-tulisan. “Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis. Berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya [QS Al Qalam (68):1-4].
Alquran mengajarkan bahwa pemahaman yang dicapai dengan keterampilan baca tulis itu, harus dilanjutkan dengan cara belajar intensif. “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah di malam hari, kecuali sedikit, seperduanya atau kurangi sedikit atau lebihi dari seperdua itu. Dan bacalah (pelajarilah) Alquran itu dengan perlahan-lahan [QS Al Muzzammil (73):1-6].
Alquran mengajarkan bahwa pemahaman yang dicapai melalui membaca, menulis dan belajar intensif itu, kini perlu dilengkapi dengan mengingatkan orang lain. Yaitu mengajarkan apa yang sudah dipelajari itu kepada orang lain. “Hai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan! [QS Al Muddatstsir (74):1-3].
Akhirnya, pada QS Al-Fatihah (1):1-7, yang diturunkan pada urutan ke 5, barulah Alquran menjelaskan pokok-pokok substansi yang perlu dipelajari. Yaitu substansi Iman, yang terkandung dalam makna ayat 1, 2, 3, dan 4; Islam, yang tersurat dalam makna ayat 5, 6 dan 7; dan Ihsan, yang tersirat dalam makna ayat 5, yaitu shalat untuk berdzikir (sesuai makna ayat 1, 2, 3, dan 4) dan untuk berdoa (sesuai makna ayat 6 dan 7).
Demikianlah contoh-contoh strategi dan metode pembelajaran yang diajarkan Alquran sejak 14 abad lalu. Yang pada abad ke 21 ini, terbukti sebagai cara belajar yang paling efektif. Sebagai contoh, National Training Laboratories, Bethel, Maine USA menemukan bahwa belajar dengan cara mengajar orang lain, terbukti sebagai metode belajar paling efektif.
Dan begitu niscayanya belajar itu untuk keberhasilan tugas kekhalifahan kita. Sehingga Allah mengingatkan kita agar terus belajar: “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Alquran untuk dipelajari, maka adakah kamu akan menjadi orang yang terus belajar? [QS Al Qamar (54): 40].
Allah a’lamu bishshawab.
(Penulis buku Paradigma Al-Fatihah)
REPUBLIKA.CO.ID, Inti tugas kita sebagai wakil Allah (khalifah) di dunia adalah menentukan pilihan. Yaitu pilihan yang kita ambil (putuskan) dalam setiap langkah hidup kita. Dan pada keputusan (pilihan) itulah sesungguhnya ujian hidup itu terjadi.
Pilihan kebenaran atau pilihan ketidakbenaran, saat kita mengambil setiap keputusan; pilihan untuk berdzikir atau tidak berdzikir, tatkala kita mendapat musibah; dan pilihan untuk bersyukur atau tidak bersyukur, di waktu kita mendapat nikmat dalam hidup.
Agar pilihan-pilihan yang kita ambil adalah pilihan-pilihan positif, maka pembelajaran adalah tuntutan dan persyaratannya. Dan karena pilihan-pilihan dalam tugas kelhalifahan kita, terkait dengan isu-isu Alquran, manusia atau alam, maka kebutuhan pembelajaran mencakup prinsip-prinsip dari substansi ketiganya.
Begitu pentingnya pembelajaran bagi keberhasilan tugas kekhalifan manusia, maka Alquran mencontohkan cara belajar efektif melalui kisah nabi Adam, Ibrahim dan Muhammad SAW, sebagai berikut.
“Allah mengajarkan nabi Adam AS tentang nama-nama makhluk alam semesta”. Kemudian berkata: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka (para malaikat) nama-nama alam semesta ini.” Melalui dua perbuatan-Nya ini, Allah mengajarkan kita tentang strategi dasar pembelajaran. Yaitu pembelajaran melalui proses menjadi murid dan proses menjadi guru [QS Al-Baqarah (2):30-33].
Alquran menambahkan contoh tentang proses pembelajaran melalui kisah Nabi Ibrahim AS, yang melakukan pembelajaran tauhid, melalui cara belajar yang sekarang kita sebut sebagai pencarian (inquiry), penguasaan pribadi (personal mastery), pembelajaran investigasi (investigative learning), dan dialog.
“Ketika malam telah gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) diaberkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam." “Kemudian tatkala ia melihat bulan terbit ia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaKu, pastilah aku termasuk orang yang sesat". [QS Al An'am (6):77].
“Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, ia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, ia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan” [QS Al An'am (6):78].
"Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan." Orang itu (raja Namrudz) berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan". Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah matahari itu dari barat." Maka terdiamlah orang kafir itu, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim” [QS Al-Baqarah (2):258].
Dalam konteks Nabi Muhammad SAW, Alquran memberikan contoh pembelajaran yang lengkap dan sistemik: membaca, menulis, belajar intensif dan mengajarkan apa yang sudah dipahami kepada orang lain. Seperti yang dapat kita pahami dari inti makna surah-surah Al-Quran yang diturunkan pada urutan ke 1 sampai 5, berikut ini.
Alquran mengajarkan bahwa Allah adalah sumber Ilmu Pengetatuan dan membaca adalah cara memperolehnya. “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan manusia apa yang ia tidak diketahui.” [QS Al 'Alaq (96):1-5].
Alquran mengajarkan bahwa kemampuan baca tulis akan menghasilkan Ilmu Pengetahuan, dalam wujud tulisan-tulisan. “Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis. Berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya [QS Al Qalam (68):1-4].
Alquran mengajarkan bahwa pemahaman yang dicapai dengan keterampilan baca tulis itu, harus dilanjutkan dengan cara belajar intensif. “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah di malam hari, kecuali sedikit, seperduanya atau kurangi sedikit atau lebihi dari seperdua itu. Dan bacalah (pelajarilah) Alquran itu dengan perlahan-lahan [QS Al Muzzammil (73):1-6].
Alquran mengajarkan bahwa pemahaman yang dicapai melalui membaca, menulis dan belajar intensif itu, kini perlu dilengkapi dengan mengingatkan orang lain. Yaitu mengajarkan apa yang sudah dipelajari itu kepada orang lain. “Hai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan! [QS Al Muddatstsir (74):1-3].
Akhirnya, pada QS Al-Fatihah (1):1-7, yang diturunkan pada urutan ke 5, barulah Alquran menjelaskan pokok-pokok substansi yang perlu dipelajari. Yaitu substansi Iman, yang terkandung dalam makna ayat 1, 2, 3, dan 4; Islam, yang tersurat dalam makna ayat 5, 6 dan 7; dan Ihsan, yang tersirat dalam makna ayat 5, yaitu shalat untuk berdzikir (sesuai makna ayat 1, 2, 3, dan 4) dan untuk berdoa (sesuai makna ayat 6 dan 7).
Demikianlah contoh-contoh strategi dan metode pembelajaran yang diajarkan Alquran sejak 14 abad lalu. Yang pada abad ke 21 ini, terbukti sebagai cara belajar yang paling efektif. Sebagai contoh, National Training Laboratories, Bethel, Maine USA menemukan bahwa belajar dengan cara mengajar orang lain, terbukti sebagai metode belajar paling efektif.
Dan begitu niscayanya belajar itu untuk keberhasilan tugas kekhalifahan kita. Sehingga Allah mengingatkan kita agar terus belajar: “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Alquran untuk dipelajari, maka adakah kamu akan menjadi orang yang terus belajar? [QS Al Qamar (54): 40].
Allah a’lamu bishshawab.
Senin, 24 Februari 2014
Melembutkan Hati
“Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kalanganmu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan kalian dan dia sangat menginginkan (keselamatan dan keamanan) bagi kalian serta amat belas kasih lagi penyayang tehadap kaum Mukmin.” (QS At-Taubah:128).
Di tengah perilaku kekerasan yang melanda masyarakat, juga masih berlakunya upaya memaksakan kehendak, lunturnya kepedulian sosial, kekerasan dalam rumah tangga, dan dendam yang diperturutkan maka sikap lemah lembut mestinya menjadi pilihan.
Termasuk dalam menyikapi berbagai persoalan kehidupan. Becermin dari teladan Nabi Muhammad SAW, mestinya mampu menirunya dalam bersikap dan bertindak.
Setidaknya ada tiga perilaku teladan Rasul yang memperlihatkan kelembutan hati. Ketiga sikap itu, yakni rela memaafkan, rendah hati (tawadhu), dan memberi tanpa pamrih. Ketiga sikap tersebut bersumber pada luasnya limpahan rasa kasih sayang beliau pada umatnya.
“Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu ….” (QS Ali Imran:159).
Rasulullah SAW sering memaafkan bukan karena terpaksa atau karena tidak mampu membalas. Melainkan karena beliau mempunyai kasih sayang dan keikhlasan sempurna. Sikap ini beliau contohkan bukan karena adanya paksaan tetapi semata-mata untuk mendapatkan ridha Allah.
Menurut Imam Al-Ghazali memaafkan yang hakiki adalah ketika seseorang berhak untuk membalas terhadap seseorang namun hak itu dilenyapkan atau digugurkan sendiri. Sekalipun orang tersebut berkuasa pula mengambil haknya itu.
Sikap tawadhu, bukan berarti merendahkan martabat. Ini justru menambah ketinggian akhlak. Rasul SAW berpesan, “Rendah hati itu tidak menambah seseorang melainkan ketinggian. Karena itu bersikaplah rendah hati, pasti Allah akan meninggikan derajatmu.”
Sikap selanjutnya adalah memberi sesuatu yang kita miliki tanpa pamrih. “Dan janganlah kamu memberi dengan maksud memperoleh balasan yang lebih banyak.” (QS 74:6).
Salah satu bentuk pemberian berupa harta yang kita miliki adalah sedekah. Bersedekah itu tidak memengaruhi harta seseorang melainkan akan semakin menambah jumlahnya. “Karena itu bersedekahlah, pasti Allah akan memberikan kasih sayang-Nya pada kalian semua.” (HR Ad-Dailami dan Ashfihani).
Lebih jauh Rasul bersabda, “Seutama-utamanya akhlak dunia dan akhirat adalah engkau menghubungkan tali silaturahim dengan orang yang memutuskan silaturahim denganmu, memberi sesuatu kepada orang yang menghalang-halangi pemberian padamu, serta memberi maaf kepada orang yang menganiayamu.” (HR Thabrani, Baihaqi, dan Ibnu Abi Ad-Dunya).
Karena itu, sikap yang melembutkan hati sebagaimana dicontohkan Rasulullah tersebut layak dihidupkan kembal. Minimal dalam kehidupan pribadi, keluarga, hubungan kerja, ataupun masyarakat sekitar kita. Wallahu a"lam bish shawab.
Di tengah perilaku kekerasan yang melanda masyarakat, juga masih berlakunya upaya memaksakan kehendak, lunturnya kepedulian sosial, kekerasan dalam rumah tangga, dan dendam yang diperturutkan maka sikap lemah lembut mestinya menjadi pilihan.
Termasuk dalam menyikapi berbagai persoalan kehidupan. Becermin dari teladan Nabi Muhammad SAW, mestinya mampu menirunya dalam bersikap dan bertindak.
Setidaknya ada tiga perilaku teladan Rasul yang memperlihatkan kelembutan hati. Ketiga sikap itu, yakni rela memaafkan, rendah hati (tawadhu), dan memberi tanpa pamrih. Ketiga sikap tersebut bersumber pada luasnya limpahan rasa kasih sayang beliau pada umatnya.
“Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu ….” (QS Ali Imran:159).
Rasulullah SAW sering memaafkan bukan karena terpaksa atau karena tidak mampu membalas. Melainkan karena beliau mempunyai kasih sayang dan keikhlasan sempurna. Sikap ini beliau contohkan bukan karena adanya paksaan tetapi semata-mata untuk mendapatkan ridha Allah.
Menurut Imam Al-Ghazali memaafkan yang hakiki adalah ketika seseorang berhak untuk membalas terhadap seseorang namun hak itu dilenyapkan atau digugurkan sendiri. Sekalipun orang tersebut berkuasa pula mengambil haknya itu.
Sikap tawadhu, bukan berarti merendahkan martabat. Ini justru menambah ketinggian akhlak. Rasul SAW berpesan, “Rendah hati itu tidak menambah seseorang melainkan ketinggian. Karena itu bersikaplah rendah hati, pasti Allah akan meninggikan derajatmu.”
Sikap selanjutnya adalah memberi sesuatu yang kita miliki tanpa pamrih. “Dan janganlah kamu memberi dengan maksud memperoleh balasan yang lebih banyak.” (QS 74:6).
Salah satu bentuk pemberian berupa harta yang kita miliki adalah sedekah. Bersedekah itu tidak memengaruhi harta seseorang melainkan akan semakin menambah jumlahnya. “Karena itu bersedekahlah, pasti Allah akan memberikan kasih sayang-Nya pada kalian semua.” (HR Ad-Dailami dan Ashfihani).
Lebih jauh Rasul bersabda, “Seutama-utamanya akhlak dunia dan akhirat adalah engkau menghubungkan tali silaturahim dengan orang yang memutuskan silaturahim denganmu, memberi sesuatu kepada orang yang menghalang-halangi pemberian padamu, serta memberi maaf kepada orang yang menganiayamu.” (HR Thabrani, Baihaqi, dan Ibnu Abi Ad-Dunya).
Karena itu, sikap yang melembutkan hati sebagaimana dicontohkan Rasulullah tersebut layak dihidupkan kembal. Minimal dalam kehidupan pribadi, keluarga, hubungan kerja, ataupun masyarakat sekitar kita. Wallahu a"lam bish shawab.
Jumat, 14 Februari 2014
Selama ini, para ilmuwan tidak mengetahui di bagian otak mana pada manusia yang paling bertanggung jawab terhadap sebuah dusta atau kebohongan. Orang hanya tahu kalau dusta itu muncul dari sebuah ucapan, tapi tidak mengetahui kalau itu ada hubungannya dengan bagian tertentu dalam otak.
Setelah melakukan penelitian, akhirnya para ilmuwan menemukan sebuah kesimpulan. Bahwa, otak bagian depan yang terletak pada ubun-ubun itulah yang paling bertanggung jawab terhadap terjadinya dusta.
Kesimpulan ini, sebenarnya tergolong sangat telat jika dibandingkan dengan apa yang sudah diisyaratkan oleh Allah swt. dalam firman-Nya dalam Alquran. Bagian otak tersebut disebut Alquran dengan nama ‘nashiyah’ atau ubun-ubun.
Setelah melakukan penelitian, akhirnya para ilmuwan menemukan sebuah kesimpulan. Bahwa, otak bagian depan yang terletak pada ubun-ubun itulah yang paling bertanggung jawab terhadap terjadinya dusta.
Kesimpulan ini, sebenarnya tergolong sangat telat jika dibandingkan dengan apa yang sudah diisyaratkan oleh Allah swt. dalam firman-Nya dalam Alquran. Bagian otak tersebut disebut Alquran dengan nama ‘nashiyah’ atau ubun-ubun.
Yang mengagumkan adalah bahwa Al-Quran sejak berabad-abad yang lalu telah berbicara tentang fungsi ubun-ubun ini ketika membicarakan Abu Jahl:
Allah swt. berfirman dalam Surah Al-‘Alaq ayat 15 dan 16.
كَلَّا لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ لَنَسْفَعَنْ بِالنَّاصِيَةِ * نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ
“Ketahuilah, sungguh jika Dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya[1], (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.
[1] Maksudnya: memasukkannya ke dalam neraka dengan menarik kepalanya.
[1] Maksudnya: memasukkannya ke dalam neraka dengan menarik kepalanya.
l-Quran memberikan sifat كاذبة خاطئة (mendustakan lagi durhaka). Kenyataan seperti inilah yang ditemukan para ilmuwan pada masa sekarang ini dengan menggunakan pemindaian resonansi magnetik.
Maha Suci Allah Yang telah menyatakan fakta ini yang menunjukkan kemukjizatan Al-Quran yang baru ditemukan pada masa sekarang ini. mnh/al-kaheel
Senin, 10 Februari 2014
Keajaiban Hewan dan Batu dalam Sejarah Islam
1. Hewan Berbicara di Akhir Zaman
Maha suci Allah yang telah membuat segala sesuatunya berbicara sesuai dengan yang Ia kehendaki. Termasuk dari tanda-tanda kekuasaanya adalah ketika terjadi hari kiamat akan muncul hewan melata yang akan berbicara kepada manusia sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an, surah An-Naml ayat 82,
“Dan apabila perkataan Telah jatuh atas mereka, kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa Sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami”.
Mufassir Negeri Syam, Abul Fida’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy berkomentar tentang ayat di atas, “Hewan ini akan keluar diakhir zaman ketika rusaknya manusia, dan mulai meninggalkan perintah-perintah Allah, dan ketika mereka telah mengganti agama Allah. Maka Allah mengeluarkan ke hadapan mereka hewan bumi. Konon kabarnya, dari Makkah, atau yang lainnya sebagaimana akan datang perinciannya. Hewan ini akan berbicara dengan manusia tentang hal itu”.[Lihat Tafsir Ibnu Katsir (3/498)]
Hewan aneh yang berbicara ini akan keluar di akhir zaman sebagai tanda akan datangnya kiamat dalam waktu yang dekat. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
“Sesungguhnya tak akan tegak hari kiamat, sehingga kalian akan melihat sebelumnya 10 tanda-tanda kiamat: Gempa di Timur, gempa di barat, gempa di Jazirah Arab, Asap, Dajjal, hewan bumi, Ya’juj & Ma’juj, terbitnya matahari dari arah barat, dan api yang keluar dari jurang Aden, akan menggiring manusia”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (2901), Abu Dawud dalam Sunan-nya (4311), At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2183), dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (4041)]
2. Pohon Kurma yang Menangis
Adanya pohon kurma yang menangis ini terjadi di zaman Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- , mengapa sampai pohon ini menangis?
Kisahnya, Jabir bin Abdillah-radhiyallahu ‘anhu- bertutur,
“Jabir bin Abdillah -radhiyallahu ‘anhu- berkata: “Adalah dahulu Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- berdiri (berkhutbah) di atas sebatang kurma, maka tatkala diletakkan mimbar baginya, kami mendengar sebuah suara seperti suara unta dari pohon kurma tersebut hingga Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- turun kemudian beliau meletakkan tangannya di atas batang pohon kurma tersebut” .[HR.Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (876)]
Ibnu Umar-radhiyallahu ‘anhu- berkata,
“Dulu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkhuthbah pada batang kurma. Tatkala beliau telah membuat mimbar, maka beliau berpindah ke mimbar itu. Batang korma itu pun merintih. Maka Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- mendatanginya sambil mengeluskan tangannya pada batang korma itu (untuk menenangkannya)”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (3390), dan At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (505)]
3. Untaian Salam Batu Aneh
Mungkin kalau seekor burung yang pandai mengucapkan salam adalah perkara yang sering kita jumpai. Tapi bagaimana jika sebuah batu yang mengucapkan salam. Sebagai seorang hamba Allah yang mengimani Rasul-Nya, tentunya dia akan membenarkan seluruh apa yang disampaikan oleh Rasul-Nya, seperti pemberitahuan beliau kepada para sahabatnya bahwa ada sebuah batu di Mekah yang pernah mengucapkan salam kepada beliau sebagaimana dalam sabdanya,
Dari Jabir bin Samurah dia berkata, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Sesungguhnya aku mengetahui sebuah batu di Mekah yang mengucapkan salam kepadaku sebelum aku diutus, sesungguhnya aku mengetahuinya sekarang”.[HR.Muslim dalam Shohih-nya (1782)].
4. Pengaduan Seekor Onta
Manusia adalah makhluk yang memiliki perasaan. Dari perasaan itu timbullah rasa cinta dan kasih sayang di antara mereka. Akan tetapi ketahuilah, bukan hanya manusia saja yang memiliki perasaan, bahkan hewan pun memilikinya. Oleh karena itu sangat disesalkan jika ada manusia yang tidak memiliki perasaan yang membuat dirinya lebih rendah daripada hewan. Pernah ada seekor unta yang mengadu kepada Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-mengungkapkan perasaannya.
Abdullah bin Ja’far-radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Pada suatu hari Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah memboncengku dibelakangnya, kemudian beliau membisikkan tentang sesuatu yang tidak akan kuceritakan kepada seseorang di antara manusia. Sesuatu yang paling beliau senangi untuk dijadikan pelindung untuk buang hajatnya adalah gundukan tanah atau kumpulan batang kurma. lalu beliau masuk kedalam kebun laki-laki Anshar. Tiba tiba ada seekor onta. Tatkala Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- melihatnya, maka onta itu merintih dan bercucuran air matanya. Lalu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- mendatanginya seraya mengusap dari perutnya sampai ke punuknya dan tulang telinganya, maka tenanglah onta itu. Kemudian beliau bersabda, “Siapakah pemilik onta ini, Onta ini milik siapa?” Lalu datanglah seorang pemuda Anshar seraya berkata, “Onta itu milikku, wahai Rasulullah”.
Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
“Tidakkah engkau bertakwa kepada Allah dalam binatang ini, yang telah dijadikan sebagai milikmu oleh Allah, karena ia (binatang ini) telah mengadu kepadaku bahwa engkau telah membuatnya letih dan lapar”. [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (1/400), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (2/99-100), Ahmad dalam Al-Musnad (1/204-205), Abu Ya’la dalam Al-Musnad (3/8/1), Al-Baihaqiy dalam Ad-Dala’il (6/26), dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqa (9/28/1). Lihat Ash-Shahihah (20)]
5. Kesaksian Kambing Panggang
Kalau binatang yang masih hidup bisa berbicara adalah perkara yang ajaib, maka tentunya lebih ajaib lagi kalau ada seekor kambing panggang yang berbicara. Ini memang aneh, akan tetapi nyata. Kisah kambing panggang yang berbicara ini terdapat dalam hadits berikut:
Abu Hurairah-radhiyallahu ‘anhu- berkata,
“Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- menerima hadiah, dan tak mau makan shodaqoh. Maka ada seorang wanita Yahudi di Khoibar yang menghadiahkan kepada beliau kambing panggang yang telah diberi racun. Lalu Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- pun memakan sebagian kambing itu, dan kaum (sahabat) juga makan. Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Angkatlah tangan kalian, karena kambing panggang ini mengabarkan kepadaku bahwa dia beracun”. Lalu meninggallah Bisyr bin Al-Baro’ bin MA’rur Al-Anshoriy. Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengirim (utusan membawa surat), “Apa yang mendorongmu untuk melakukan hal itu?” Wanita itu menjawab, “Jika engkau adalah seorang nabi, maka apa yang aku telah lakukan tak akan membahayakan dirimu. Jika engkau adalah seorang raja, maka aku telah melepaskan manusia darimu”. Kemudian Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- memerintahkan untuk membunuh wanita itu, maka ia pun dibunuh. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda ketika beliau sakit yang menyebabkan kematian beliau,”Senantiasa aku merasakan sakit akibat makanan yang telah aku makan ketika di Khoibar. Inilah saatnya urat nadi leherku terputus”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (4512). Di-shohih-kan Al-Albaniy dalam Shohih Sunan Abi Dawud (hal.813), dengan tahqiq Masyhur Hasan Salman]
6. Batu yang Berbicara
Setelah kita mengetahu adanya batu yang mengucapkan salam, maka keajaiban selanjutnya adalah adanya batu yang berbicara di akhir zaman. Jika kita pikirkan, maka terasa aneh, tapi demikianlah seorang muslim harus mengimani seluruh berita yang disampaikan oleh Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, baik yang masuk akal, atau tidak. Karena Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidaklah pernah berbicara sesuai hawa nafsunya, bahkan beliau berbicara sesuai tuntunan wahyu dari Allah Yang Mengetahui segala perkara ghaib.
Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
“Kalian akan memerangi orang-orang Yahudi sehingga seorang diantara mereka bersembunyi di balik batu. Maka batu itu berkata, “Wahai hamba Allah, Inilah si Yahudi di belakangku, maka bunuhlah ia”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (2767), dan Muslim dalam Shohih-nya (2922)]
Al-Hafizh Ibnu Hajar-rahimahullah- berkata, “Dalam hadits ini terdapat tanda-tanda dekatnya hari kiamat, berupa berbicaranya benda-benda mati, pohon, dan batu. Lahiriahnya hadits ini (menunjukkan) bahwa benda-benda itu berbicara secara hakikat”.[Lihat Fathul Bari (6/610)]
7. Semut Memberi Komando
Mungkin kita pernah mendengar cerita fiktif tentang hewan-hewan yang berbicara dengan hewan yang lain. Semua itu hanyalah cerita fiktif belaka alias omong kosong. Tapi ketahuilah wahai para pembaca, sesungguhnya adanya hewan yang berbicara kepada hewan yang lain, bahkan memberi komando, layaknya seorang komandan pasukan yang memberikan perintah. Hewan yang memberi komando tersebut adalah semut. Kisah ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Qur’an,
“Dan Sulaiman Telah mewarisi Daud, dan dia berkata: “Hai manusia, kami Telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) Ini benar-benar suatu kurnia yang nyata”.Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). Hingga apabila mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.Maka dia (Sulaiman) tersenyum dengan tertawa Karena (mendengar) perkataan semut itu. dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah Aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang Telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah Aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (QS.An-Naml: 16-19).
Inilah beberapa perkara yang lebih layak dijadikan “Tujuh Keajaiban Dunia” yang menghebohkan, dan mencengangkan seluruh manusia. Orang-orang beriman telah lama meyakini dan mengimani perkara-perkara ini sejak zaman Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- sampai sekarang. Namun memang kebanyakan manusia tidak mengetahui perkara-perkara itu. Oleh karena itu, kami mengangkat hal itu untuk mengingatkan kembali, dan menanamkan aqidah yang kokoh di hati kaum muslimin - Almakasarcom -
Maha suci Allah yang telah membuat segala sesuatunya berbicara sesuai dengan yang Ia kehendaki. Termasuk dari tanda-tanda kekuasaanya adalah ketika terjadi hari kiamat akan muncul hewan melata yang akan berbicara kepada manusia sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an, surah An-Naml ayat 82,
“Dan apabila perkataan Telah jatuh atas mereka, kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa Sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami”.
Mufassir Negeri Syam, Abul Fida’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy berkomentar tentang ayat di atas, “Hewan ini akan keluar diakhir zaman ketika rusaknya manusia, dan mulai meninggalkan perintah-perintah Allah, dan ketika mereka telah mengganti agama Allah. Maka Allah mengeluarkan ke hadapan mereka hewan bumi. Konon kabarnya, dari Makkah, atau yang lainnya sebagaimana akan datang perinciannya. Hewan ini akan berbicara dengan manusia tentang hal itu”.[Lihat Tafsir Ibnu Katsir (3/498)]
Hewan aneh yang berbicara ini akan keluar di akhir zaman sebagai tanda akan datangnya kiamat dalam waktu yang dekat. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
“Sesungguhnya tak akan tegak hari kiamat, sehingga kalian akan melihat sebelumnya 10 tanda-tanda kiamat: Gempa di Timur, gempa di barat, gempa di Jazirah Arab, Asap, Dajjal, hewan bumi, Ya’juj & Ma’juj, terbitnya matahari dari arah barat, dan api yang keluar dari jurang Aden, akan menggiring manusia”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (2901), Abu Dawud dalam Sunan-nya (4311), At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2183), dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (4041)]
2. Pohon Kurma yang Menangis
Adanya pohon kurma yang menangis ini terjadi di zaman Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- , mengapa sampai pohon ini menangis?
Kisahnya, Jabir bin Abdillah-radhiyallahu ‘anhu- bertutur,
“Jabir bin Abdillah -radhiyallahu ‘anhu- berkata: “Adalah dahulu Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- berdiri (berkhutbah) di atas sebatang kurma, maka tatkala diletakkan mimbar baginya, kami mendengar sebuah suara seperti suara unta dari pohon kurma tersebut hingga Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- turun kemudian beliau meletakkan tangannya di atas batang pohon kurma tersebut” .[HR.Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (876)]
Ibnu Umar-radhiyallahu ‘anhu- berkata,
“Dulu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkhuthbah pada batang kurma. Tatkala beliau telah membuat mimbar, maka beliau berpindah ke mimbar itu. Batang korma itu pun merintih. Maka Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- mendatanginya sambil mengeluskan tangannya pada batang korma itu (untuk menenangkannya)”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (3390), dan At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (505)]
3. Untaian Salam Batu Aneh
Mungkin kalau seekor burung yang pandai mengucapkan salam adalah perkara yang sering kita jumpai. Tapi bagaimana jika sebuah batu yang mengucapkan salam. Sebagai seorang hamba Allah yang mengimani Rasul-Nya, tentunya dia akan membenarkan seluruh apa yang disampaikan oleh Rasul-Nya, seperti pemberitahuan beliau kepada para sahabatnya bahwa ada sebuah batu di Mekah yang pernah mengucapkan salam kepada beliau sebagaimana dalam sabdanya,
Dari Jabir bin Samurah dia berkata, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Sesungguhnya aku mengetahui sebuah batu di Mekah yang mengucapkan salam kepadaku sebelum aku diutus, sesungguhnya aku mengetahuinya sekarang”.[HR.Muslim dalam Shohih-nya (1782)].
4. Pengaduan Seekor Onta
Manusia adalah makhluk yang memiliki perasaan. Dari perasaan itu timbullah rasa cinta dan kasih sayang di antara mereka. Akan tetapi ketahuilah, bukan hanya manusia saja yang memiliki perasaan, bahkan hewan pun memilikinya. Oleh karena itu sangat disesalkan jika ada manusia yang tidak memiliki perasaan yang membuat dirinya lebih rendah daripada hewan. Pernah ada seekor unta yang mengadu kepada Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-mengungkapkan perasaannya.
Abdullah bin Ja’far-radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Pada suatu hari Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah memboncengku dibelakangnya, kemudian beliau membisikkan tentang sesuatu yang tidak akan kuceritakan kepada seseorang di antara manusia. Sesuatu yang paling beliau senangi untuk dijadikan pelindung untuk buang hajatnya adalah gundukan tanah atau kumpulan batang kurma. lalu beliau masuk kedalam kebun laki-laki Anshar. Tiba tiba ada seekor onta. Tatkala Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- melihatnya, maka onta itu merintih dan bercucuran air matanya. Lalu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- mendatanginya seraya mengusap dari perutnya sampai ke punuknya dan tulang telinganya, maka tenanglah onta itu. Kemudian beliau bersabda, “Siapakah pemilik onta ini, Onta ini milik siapa?” Lalu datanglah seorang pemuda Anshar seraya berkata, “Onta itu milikku, wahai Rasulullah”.
Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
“Tidakkah engkau bertakwa kepada Allah dalam binatang ini, yang telah dijadikan sebagai milikmu oleh Allah, karena ia (binatang ini) telah mengadu kepadaku bahwa engkau telah membuatnya letih dan lapar”. [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (1/400), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (2/99-100), Ahmad dalam Al-Musnad (1/204-205), Abu Ya’la dalam Al-Musnad (3/8/1), Al-Baihaqiy dalam Ad-Dala’il (6/26), dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqa (9/28/1). Lihat Ash-Shahihah (20)]
5. Kesaksian Kambing Panggang
Kalau binatang yang masih hidup bisa berbicara adalah perkara yang ajaib, maka tentunya lebih ajaib lagi kalau ada seekor kambing panggang yang berbicara. Ini memang aneh, akan tetapi nyata. Kisah kambing panggang yang berbicara ini terdapat dalam hadits berikut:
Abu Hurairah-radhiyallahu ‘anhu- berkata,
“Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- menerima hadiah, dan tak mau makan shodaqoh. Maka ada seorang wanita Yahudi di Khoibar yang menghadiahkan kepada beliau kambing panggang yang telah diberi racun. Lalu Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- pun memakan sebagian kambing itu, dan kaum (sahabat) juga makan. Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Angkatlah tangan kalian, karena kambing panggang ini mengabarkan kepadaku bahwa dia beracun”. Lalu meninggallah Bisyr bin Al-Baro’ bin MA’rur Al-Anshoriy. Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengirim (utusan membawa surat), “Apa yang mendorongmu untuk melakukan hal itu?” Wanita itu menjawab, “Jika engkau adalah seorang nabi, maka apa yang aku telah lakukan tak akan membahayakan dirimu. Jika engkau adalah seorang raja, maka aku telah melepaskan manusia darimu”. Kemudian Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- memerintahkan untuk membunuh wanita itu, maka ia pun dibunuh. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda ketika beliau sakit yang menyebabkan kematian beliau,”Senantiasa aku merasakan sakit akibat makanan yang telah aku makan ketika di Khoibar. Inilah saatnya urat nadi leherku terputus”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (4512). Di-shohih-kan Al-Albaniy dalam Shohih Sunan Abi Dawud (hal.813), dengan tahqiq Masyhur Hasan Salman]
6. Batu yang Berbicara
Setelah kita mengetahu adanya batu yang mengucapkan salam, maka keajaiban selanjutnya adalah adanya batu yang berbicara di akhir zaman. Jika kita pikirkan, maka terasa aneh, tapi demikianlah seorang muslim harus mengimani seluruh berita yang disampaikan oleh Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, baik yang masuk akal, atau tidak. Karena Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidaklah pernah berbicara sesuai hawa nafsunya, bahkan beliau berbicara sesuai tuntunan wahyu dari Allah Yang Mengetahui segala perkara ghaib.
Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
“Kalian akan memerangi orang-orang Yahudi sehingga seorang diantara mereka bersembunyi di balik batu. Maka batu itu berkata, “Wahai hamba Allah, Inilah si Yahudi di belakangku, maka bunuhlah ia”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (2767), dan Muslim dalam Shohih-nya (2922)]
Al-Hafizh Ibnu Hajar-rahimahullah- berkata, “Dalam hadits ini terdapat tanda-tanda dekatnya hari kiamat, berupa berbicaranya benda-benda mati, pohon, dan batu. Lahiriahnya hadits ini (menunjukkan) bahwa benda-benda itu berbicara secara hakikat”.[Lihat Fathul Bari (6/610)]
7. Semut Memberi Komando
Mungkin kita pernah mendengar cerita fiktif tentang hewan-hewan yang berbicara dengan hewan yang lain. Semua itu hanyalah cerita fiktif belaka alias omong kosong. Tapi ketahuilah wahai para pembaca, sesungguhnya adanya hewan yang berbicara kepada hewan yang lain, bahkan memberi komando, layaknya seorang komandan pasukan yang memberikan perintah. Hewan yang memberi komando tersebut adalah semut. Kisah ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Qur’an,
“Dan Sulaiman Telah mewarisi Daud, dan dia berkata: “Hai manusia, kami Telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) Ini benar-benar suatu kurnia yang nyata”.Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). Hingga apabila mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.Maka dia (Sulaiman) tersenyum dengan tertawa Karena (mendengar) perkataan semut itu. dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah Aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang Telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah Aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (QS.An-Naml: 16-19).
Inilah beberapa perkara yang lebih layak dijadikan “Tujuh Keajaiban Dunia” yang menghebohkan, dan mencengangkan seluruh manusia. Orang-orang beriman telah lama meyakini dan mengimani perkara-perkara ini sejak zaman Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- sampai sekarang. Namun memang kebanyakan manusia tidak mengetahui perkara-perkara itu. Oleh karena itu, kami mengangkat hal itu untuk mengingatkan kembali, dan menanamkan aqidah yang kokoh di hati kaum muslimin - Almakasarcom -
Langganan:
Postingan (Atom)




